Jumat, 16 Mei 2014

Beberapa sajak Penulis Sapardi Djoko Damono - Hujan Bulan Juni

 Hujan Dalam Komposisi,1

"apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang mengeruk jendela?
apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turun di selokan?"

Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan, membayangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang.

"Tak ada. Kecuali bayang-bauang,u sendiri yang di balik pintu memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit dari titik kair menggelincir dari daun dekat jendela itu. atau memimpikan semacam suku kata yang akan mengantarmu tidur."

Barangkali sudah terlalu sering ia mendengaenya, dan tak lagi mengenalnya.

(1969) - Sapardi Djoko Damono




Hujan Dalam Komposisi, 2

Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin; kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan menimpa pohon jambu itu tergelincir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah,
dan kembali ke bumi.

Apakah yang kita harapkan? Hujan juga jatuh di jalan yang panjang, menyusurnya, dan tergelincir masuk selokan kecil, mericik swaranya, menyusur selokan, terus mericik sejak sore, mericik juga di nalan gelap ini, bercakap tentang lautan.
Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan.

Selamat Tidur.

(1969) - Sapardi Djoko Damono



Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989) - Sapardi Djoko Damono











Tidak ada komentar:

Posting Komentar